.
entah sudah berapa lama mereka di sini
di tiap malam, di tiap rindu, di tiap sepi
berputar tak tentu, sibuk menyusun diri
pada doa yang tak selesai
pada novena yang ingkar
pada harap yang terkulai
pada diam yang bingar

huruf-huruf itu terus memburu, mengepungku
melewati malam-malam yang panjang
menerobos kenyamanan yang lengang
tak sekalipun mereka alpa menjenguk, mendesak
tak sejenakpun mereka sudi berhenti, menjarak

lalu, aku memutuskan untuk tak lagi lari.
pada sebuah pojok, pada sebuah kebuntuan,
aku mengambil bantal dan merebahkan diri
membiarkan huruf-huruf bertukar tempat bergantian
membiarkan semua fantasi beterbangan tak karuan
(semesta, ternyata, walau cuma seukuran diri saya, adalah ketakberhinggaan yang memabukkan)

besok, kekasihku, akan 'ku datangi kamu dengan bergegas
seusai huruf-huruf tersusun rapih di alam benak
seusai matahari terbujur kaku di semak-semak.

besok, kekasihku, akan 'ku ciumi bibirmu tinggalkan bekas
tentang merah yang sudah tak lagi berwarna darah
tentang hitam  yang tak pernah lagi tawarkan gairah.